Gerhana bulan total terlama sepanjang abad ini.

Gerhana bulan total kali ini dikabarkan akan menjadi yang terlama sepanjang abad ini. Wilayah wilayah di Indonesia juga dapat melihat fenomena alam ini.

@fenomena. Gerhana bulan total kali ini dikabarkan akan menjadi yang terlama sepanjang abad ini. pada 27 Juli waktu New York, merupakan waktu dimana dikabarkan akan terjadi gerhana bulan terlama akan Nampak di langit malam hari. Hal ini sebagaimana dikutip dari VOA Indonesia, Selasa (10/7/2018).

NASA menjelaskan, gerhana Bulan akan nampak sekitar 1 jam 43 menit yang dikabarkan akan dapat terlihat di sekitar Afrika Timur dan Asia Tengah. Di bagian benua Afrika dan Asia dan juga yang tinggal di Australia, Eropa hingga Amerika Selatan akan dapat menyaksikan sebagian dari gerhana bulan tersebut. Ketika itu, bulan akan nampak oranye.

Dalam rangka menyambut gerhana bulan total terlama, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) akan melakukan pengamatan khusus. Diketahui, gerhana bulan total terlama akan terjadi pada 28 Juli 2018, tepat pada waktu dini hari.

Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin menyatakan, proses pengamatan gerhana bulan total terlama ini sayangnya tidak akan dilakukan secara umum mengingat, gerhana terlama ini akan nampak hingga waktu Subuh yang dimulai dari dini hari.

"Ya, nanti kita bakal lakukan pengamatan, tapi bukan untuk umum karena gerhana ini bakal terjadi di dini hari pada 28 Juli 2018," kata Thomas kepada Tekno Liputan6.com, Rabu (18/7/2018).

Ketika ditanyakan perihal pengamatan khusus terkait fenomena alam ini, Thomas menerangkan kalau pihaknya hanya akan menangkap momen gerhana bulan saja. "Tidak ada tujuan sains, hanya untuk mengabadikan foto prosesnya saja," ujarnya.

Gerhana bulan terjadi ketika Bumi berada di antara Matahari dan Bulan. Pembiasan Atmosfer Atmosfer Bumi yang kaya nitrogen membiaskan sinar matahari. Pembiasan ini membuat kita melihat langit berwarna biru.  

Bedanya dengan Super Blue Blood Moon Sekitar matahari terbenam dan matahari terbit, cahaya yang sampai ke mata kita telah semakin tersebar. Ini membuat matahari dan cahayanya tampak lebih oranye atau bahkan merah. Udara ketika gerhana bulan total mirip dangan proses terbit dan terbenamnya matahari. Seperti lensa yang besar, atmosfer Bumi membiaskan cahaya menuju bulan purnama. 

"Jika Anda berdiri di permukaan bulan selama gerhana bulan, Anda akan melihat matahari terbenam dan naik di belakang Bumi," kata David Diner, seorang ilmuwan planet di Jet Propulsion Laboratory NASA, dikutip dari Business Insider, Minggu (22/07/2018). "Anda akan mengamati sinar matahari bias dan tersebar ketika mereka melewati atmosfer di sekitar planet kita," sambungnya. 

Inilah sebabnya mengapa gerhana bulan berwarna oranye-merah. Semua cahaya berwarna itu difokuskan pada bulan dalam bayangan berbentuk kerucut yang disebut umbra. Bulan juga tertutup debu ultra-halus, seperti kaca batu yang disebut regolith, yang memiliki properti khusus yang disebut "backscatter". Debu-debu tersebut memantulkan cahaya itu kembali. 


Puncak Gerhana

Gerhana bulan "super blue blood moon" terlihat di atas langit Jakarta, Rabu (31/1). Fenomena alam yang langka ini terjadi hanya sekali dalam 150 tahun. (Liputan6.com/Arya Manggala)
Apa kamu Nggak sempat melihat Gerhana Bulan Total yang terjadi pada 31 Januari lalu? Mungkin ini kesempatan kamu bisa lihat Gerhana Bulan Total lainnya pada 28 Juli 2018 mendatang. 

Rhorom Priyatikanto  seorang Peneliti Pusat Sains Antariksa LAPAN menjelaskan, seluruh wilayah Indonesia dapat untuk melihat gerhana bulan total pada 28 Juli,nanti pada waktu dini hari. 
“Puncaknya pukul 03.23 WIB. Di banyak berita disebutkan tanggal 27 Juli (waktu Greenwich, UK),” jelas Rhorom kepada Tekno Liputan6.com via pesan teks.

Perihal lamanya gerhana, Rhorom menerangkan lamanya gerhana sekitar 3 jam 55 menit, sedangkan lamanya gerhana total 1 jam 43 menit. Lantas mengapa durasi gerhana bulan kali ini lebih lama dari biasanya? 

“Memang lama karena ketika itu Bulan jauh dari Bumi (di titik apogee, tampak sebagai micromoon), kebalikan dari Super Blue Blood Moon pada Januari lalu,” ucapnya,

Sekilas Gerhana Bulan

Gerhana bulan. 
Gerhana bulan. (Ilustrasi: National Geographic)

Perlu diketahui, gerhana bulan terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam posisi sejajar, sehingga membuat bunyi terhalangi oleh bayangan Bulan.

Gerhana sebagian akan terlihat selama 3 jam 55 menit yang menunjukan gerhana ini sebagai gerhana terlama sejak 2011 hingga 2020.

Mereka yang tinggal di Amerika Serikat tidak bisa menyaksikan peristiwa kosmik ini. Meski demikian, NASA menambahkan mereka harus menunggu sampai Juli 2020 untuk menyaksikan fenomena gerhana bulan terlama ini.

Awal tahun ini ada gerhana bulan total pada 31 Januari. Ketika itu, terjadi peristiwa gerhana bulan bernama Super Blue Blood Moon, atau yang biasa disebut dengan supermoon.

Ketika itu Bulan memiliki ukuran lebih besar dan terang. Sebutan bulan biru sendiri adalah bulan purnama kedua dalam satu bulan.

Ketika fenomena Super Blue Blood Moon terjadi, wilayah-wilayah yang dapat menyaksikannya, misalnya Hawaii, Alaska, Kanada, Australia, dan Asia. Tidak hanya itu, Amerika Serikat bagian barat dan Rusia juga bisa menyaksikan kejadian langka ini.

Kualitas Atmosfer Untuk diketahui, warna merah dari satu gerhana bulan satu dengan yang lain tidak pernah sama. Itu karena aktivitas alam dan manusia mempengaruhi atmosfer Bumi. "Polusi dan debu di atmosfer bawah cenderung menundukkan warna matahari terbit atau terbenam, sedangkan partikel asap halus atau aerosol kecil yang terletak di ketinggian tinggi selama letusan gunung berapi besar dapat memperdalam warna ke warna merah yang intens," kata Diner. 

Dirangkum dari Live Science, Selasa (30/01/2018), kondisi atmosfer juga dapat mempengaruhi kecerahan warna. Misalnya, partikel ekstra di atmosfer, seperti abu dari api besar atau letusan gunung berapi baru-baru ini, dapat menyebabkan bulan muncul warna merah yang lebih gelap, menurut NASA.

Sumber Referensi:

0 Response to "Gerhana bulan total terlama sepanjang abad ini. "

Post a Comment

Apa Pendapatmu Tentang Artikel Ini?

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel