PHK Besar-besaran Ancam Dunia Ditengah Pandemi Covid-19

Pandemi Virus Corona (Covid-19) yang semakin luas mulai dominan  terhadap lesunya dunia usaha, tergolong di tatar Galuh Ciamis. Belasan perusahaan terpaksa meminimalisir jumlah pekerja atau karyawan, dengan dalil efisiensi dan meminimalisir beban perusahaan.

Wabah virus corona (COVID-19) yang telah merebak sekitar empat bulan terakhir di semua dunia sudah membuat tidak sedikit orang jatuh sakit dan meninggal. Kebijakan pemerintah di dunia memberi batas untuk mengerjakan isolasi dan memberi batas ruang gerak, menciptakan mata rantai ekonomi dunia merasakan gangguan.
Wabah virus corona (COVID-19)
Parahnya, dampaknya tidak melulu sampai di situ. Terngganggunya kegiatan ekonomi tersebut menciptakan kinerja tidak sedikit perusahaan di dunia terganggu. Akibatnya tidak sedikit juga orang yang sekarang telah kehilangan pekerjaan.

Bahkan menurut keterangan dari Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), bakal ada 25 juta PHK yang terjadi di semua dunia andai wabah tak pun tertangani. Kekacauan tersebut sendiri sudah mulai tampak jelas ketika ini di Amerika Serikat (AS) sampai Austria, kata ekonom Deutsche Bank AG.
Bahkan walau saat ekonomi merasakan pemulihan, mereka masih menebak akan ada penambahan angka pengangguran 4,6% di AS dan 8,3% di zona euro pada akhir 2021.

gelombang phk besar-besaran ditengah wabah virus corona (COVID-19)

Di Eropa pun tidak jauh lain dengan AS. Sebuah laporan menunjukkan nyaris satu juta penduduk Inggris mengemukakan pembayaran tunjangan kesejahteraan dalam masa-masa dua minggu terakhir. Angka tersebut 10 kali lipat lebih tinggi dari jumlah normal. Dari hasil survei bisnis yang dilaksanakan lembaga statistik negara itu, diketahui telah ada 27% bisnis yang meminimalisir pekerjanya dalam masa-masa singkat.

Di samping Inggris, Spanyol pun mencatatkan urusan yang sama. Angka klaim penganggurannya naik menjadi nyaris 14%, tergolong yang tertinggi di negara maju. Sementara di Austria pun terjadi eskalasi yaitu menjadi 12%, tertinggi semenjak pasca Perang Dunia II.

Di Asia, angka pengangguran Jepang masih bertahan di 2,4% pada bulan Februari, namun ada penurunan tajam dalam rasio posisi yang terdapat ke level terendah dalam tiga tahun. Dari data terbaru pun terlihat adanyaeskalasi dalam pengusulan pinjaman terpaksa melalui program pemerintah guna orang-orang yang kehilangan kegiatan atau menghadapi pemotongan upah.

Negara Asia lainnya, yakni Thailand bahkan lebih parah. Hampir 23 juta orang atau sepertiga dari populasi Thailand, meregistrasi untuk mendapat pertolongan tunai pemerintah sejak pertolongan tersedia pada 28 Maret lalu. Padahal, pemerintah Thailand bertujuan memberikan pertolongan dana melulu pada 9 juta jiwa guna mengurangi akibat ekonomi yang diangkut pandemi COVID-19. Setiap pribadi itu bakal diberi15.000 baht (US$ 455) sekitar tiga bulan.

Referensi:

Baca Juga
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url