Cerita Rakyat Gorontalo Perang Panipi Part II

Perang Panipi Part II


Ilustrasi (Foto : Beranda Museum Sejarah Gorontalo)


Karlotapost-Artikel- Pemerintah penjajah pun memerintahkan Polisi Belanda untuk menangkap orang-orang yang membangkan. Banyak orang tua yang di bawa ke kantor Desa yang telah dikuasi Belanda, mereka semua dipaksa untuk membayar pajak atau semua harta mereka akan dirampas. Panipi yang mendengar akan hal itu segera mendatangai kantor desa tersebut, ia datang dengan beberapa pemuda, didapatinya orang desa itu sudah di bawa ke kota untuk ditahan, Panipi mendengar berita tersebut dari warga sekitar kantor desa, bahwa warga yang ditahan itu mendapatkan kekerasan, bahkan luka tusukan pedang.

Panipi menjadi geram lalu ia menyatakan kepada para pemuda agar bersiap untuk berperang dengan penjajah, mereka membentuk pasukan disuatu tempat yang disebut BUA. di Bua Panipi dan teman-temannya mengumpulkan rakyat yang berani menentang Belanda, dan banyak pumuda bergabung dengan perlawanan itu. Ada yang datang dari desa sekitar, Limboto, Suwawa, Isimu, dan juga dari kota Gorontalo. Mereka semua hanya bersenjatakan pedang, kris, pisau, tombak dan kayu pemukul.  

Menyadari adanya bahaya tantangan rakyat, pemerintah Belanda di Gorontalo minta kepada raja Batudaa, yaitu ayah Panipi agar membujuk anaknya, namun pemerimintaan itu ditolak oleh raja Batudaa. Ia tidak mau menghalangi anaknya karena, ia berpihak pada rakyat yang menderita, Kepala pemerintahan memerintahkan beberapa polisi Belanda untuk menangkap Panipi, namun mereka mendapatkan perlawanan dari para pemuda, beberapa anggota polisi Belanda kembali dan yang lainnya mati. Beberapa kali polisi dan tentara Belanda berusaha menangkap dan membunuh Panipi mengalami kegagalan, rakyat sudah mengangkat senjata dan Paninpi telah menyatakan perang melawan penajajah.


Literatur


Suatu hari mengirim pasukan yang banyak ke Desa Bua, sebelum mereka tiba disana, Panipi telah mendapat berita dari kurirnya yang dipasang sepanjang jalan dari kota ke Bua. Ia pun segera memerintahkan semua pemuda untuk bertahan dan melawan sampai titik darah terakhir, Panipi memberi semangat kepada teman-temannya dengan mengatakan " kita harus berani melawan penajajah yang telah melaratkan kita semua. Laki-laki atau pun perempuan harus berani menantang maut kalau tidak ingin diperkosa terus menerus oleh penjajah dan anak buahnya". Rakyat yang  mengikuti Panipi terus bertambah banyak dan siap untuk berperang, walaupun mereka menyadari bahwa persenjataan mereka hanya tradisional. 

Ketika polisi dan tetara Belanda sampai ke Bua terjadilah perang yang hebat disana, itulah perang pertama di Bua. Rakyat Panipi berjuang dengan penuh semangat laki-laki pun perempuan memegang keris menusuk atau menetak setiap polisi dan tentara Belanda yang berani memasuki benteng mereka. Setelah beberapa hari berperang dan sambil intai mengintai, akhirnya polisi Belanda kembali dengan tangan hampa, banyak polisi dan tentara Belanda mati terbunuh, baik dalam perang tanding atau pun karena jebakan yang dibuat oleh Panipi dan kawan-kawannya.  Jebakan itu disebut Tui-tui, yaitu lubang yang mempunyai tombak dari dalam, siapa yang masuk ke dalamnya akan tertusuk tombak tersebut.

Artikel ini diambil dari Buku, Cerita Rakyat Kepalawanan Gorontalo. Oleh Dr. Nanti Tuloli - STIKIP GORONTALO - 1993.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url