Ruang Kota

Ruang Kota

Rahman Halid

Karlotapost-Narasi- Asap-asap mengepul berwarna kehitaman bak hingar-bingar kota yang sangat terlampau kritis menyerupai iblis parlemen, prostitusi yang memperbudak wanita dengan tuntukan ekonomi, sampai anak-anak yang telah menjadi pelayan hasrat konglomerat.

tercerai-berai menertawakan ruang kota yang dikatakan sebagai neraka dunia yang membakar nurani sampai pada isi kepala yang kosong isinya, anak-anak kecil terlantar, orang-orang miskin dimana-mana, wanita yang dijadikan sebagai budak birahi adalah hamparan kesewenang-wenangan ruang kota yang menampilkan identitas sebenarnya.

tentang Feminisme dan kosa kata keperempuanan hanyalah beberapa imbuhan kecil yang selalu dijadikan kursus diskusi untuk memperlihatkan mana yang pintar dan menguasai teori, selebihnya tidur, makan dan jalan-jalan, padahal ruang sosial telah memperhatikan itu untuk berbicara sebagai landasan kekuatan dalam penguasaan teori.

antah-berantah tidak bisa disimpulkan untuk ruang kota, bak otak yang tak pernah dijamah oleh sekuntum buku, bahkan untuk beberapa hari sebelumnya Ruang Televisi sangat menyedihkan, menampilkan hingar-bingar yang tak terdidik, dari pelakon sinetron asal-asalan sampai pada mantan napi pelecehan anak dibawah umur disambut bak veteran perang gerilya.

tingkat kewarasan ruang kota diubah tak se-egaliter pada umumnya, isi kepala yang seharusnya berjamak dengan ruang publik yang ilmiah kini dijadikan untuk sebuah grade kapitalistik bahwa uang adalah segala-galanya, padahal urusan kemanusiaan adalah sebenar-benarnya nilai yang tidak bisa ukur dan ditukar dengan uang.

Ruang Kota
Foto: Unplash

Akupun bermimpi tentang sebuah kota rusuh yang didalamnya menampilkan pertukaran Interpersonal manusia dan hewan, salah satunya adalah semua aktivitas manusia diganti oleh hewan, dari memasak, bekerja, menikah dan mati dan manusia hanya akan menjadi kacung yang tak ubah seperti sampah jalanan yang diperbudak oleh mereka dan manusia hanya akan menjadi lakon drama diatas panggung yang selalu disoraki dengan teriakan para hewan-hewan yang telah menjadi bos.

Bahkan, manusia akan dipaksa untuk disuntik mati dengan jaminan kesehatan, padahal hanya untuk kepentingan kerajaan mereka, semua akan terjadi begitu secara terus menerus, bahkan sutradara hewan sudah membuat intrik drama dengan detail dan terperinci, bahkan orang-orang desa sangat terpengaruh dengan hal itu,dengan selalu bercemooh "Kita akan sehat dan kita akan bekerja dengan penuh kenikmatan," Ungkap mereka.

tetapi yang terjadi, mereka diperbudak oleh nilai yang tidak berlandaskan sikap sosial atau sejenisnya,

padahal dalam analisa sebenarnya, Ruang kota menampilkan Hingar bingar yang begitu memuakan, dari Jumlah Penduduk yang begitu banyak dengan kekayaan alam yang melimpah tapi hanya dipersembahkan kepada altar Grade Kapitalistik International.

pertanyaanya, apakah isi kepala mereka telah berubah menjadi kotoran, tidak demikian, yang merubah mereka adalah ruang kota yang penuh kebisingan dengan hingar-bingar kerakusan, bahkan untuk menemui para pengemis kecil harus bersua dengan teriakan yang membuat mereka lari luntang-lantang dikira yang akan menculik mereka.

teriakan mereka terdengar sampai pada dentuman pistol yang akhirnya membuat mereka mati, dan mayat mereka dibuang ketempat sampah, cerita yang memuakan, tapi, itulah cerita sebenarnya, semua pelakonnya hanya akan menjadi kenikmatan imajinatif, seperti orang-orang miskin yang berusaha menjadi kaya dan menguasai alat-alat produksi.

diruang kota kita tidak akan kembali pada kisah sebenarnya, antara Idealism dan Real Fact, semua tidak akan normal, semua menceritakan kisah yang membabi buta, bahkan Ruang kota, tak akan menampilkan nikmat ihwal yang sebenarnya, dari pertikaian relationship Agama bahkan sampai pada pemahaman Usul, Furu' dan Ikhtilaf, yang dicerminkan manusia hanyalah tentang kebenaran, bahkan dalam ilmu apapun, dari setiap Ijtihad sampai pada tingkatan ijma semua akan kembali kepada kadar kebenaran, bahwa yang tunggal adalah satu dan tidak dapat dibagi-bagi.

Penulis adalah Pemikir Kritis dan Aktivis Sosial, Pimpinan Pondok Pesantren, dan Pengurus Pusat EN- Lmnd DN


(Penulis - Rahman Halid)

Baca Juga
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url