Cerita Rakyat Kepahlawanan Gorontalo Perantauan Polumoduyo

Perantauan Polumoduyo Part I














Sumber

gtofreel.com - Gorontalo/Artikel - POLUMODUYO adalah anak sulung Raja Suwawa adiknya bernama Mooduto kerajaan Suwawa itu berada di satu daratan tinggi di Gorontalo yang bernama Bawangio.



Tempat itu dihuni oleh penduduk yang suka menanam tebu rajanya adil dan memerintah rakyatnya dengan baik keadaan kerajaannya diliputi oleh kedamaian ketentraman dan keamanan mereka tidak mengenal permusuhan dengan kerajaan lain di Gorontalo, pada suatu ketika raja sudah ingin diganti oleh salah seorang anaknya, ia merasa sudah tua dan lemah ia tidak mau memutuskan sendiri siapa apa yang menjadi raja diantara Polumoduyo dan Mooduto ia pun meminta pendapat seorang ahli yang bisa diberi gelar, Talenga.


Talenga itu bernama Pogambango. Pogambango mempunyai akal yang banyak iya juga disegani karena mempunyai ilmu yang banyak pula ketika raja menanyakan kepada program Bango bagaimana cara memilih calon raja diantara kedua anaknya ia menjawab dengan segan " maaf paduka raja saya tidak ingin menggurui raja hanya menurut pendapat saya kedua anak raja itu disuruh bertanding makan tebu di depan rakyat kemudian rakyat akan menyatakan sendiri siapa yang paling mereka sukai" ucapnya, mendengar nasehat Talenga.












Sumber


Raja segera menyuruh penjaga istana untuk membunyikan gong rakyat berkumpul di depan istana untuk mengetahui apa maksud raja mengumpulkan mereka mereka mengira akan ada serangan musuh sehingga rakyat harus dikumpul setelah semua rakyat kerajaan itu berkumpul raja pun segera mengemukakan maksudnya ia mengatakan " wahai rakyat Bawangio saya ini sudah sangat tua saya telah merasa lemah dan tidak sanggup lagi melakukan tugas sebagai raja oleh sebab itu saya mengharapkan agar kamu memilih salah seorang diantara kedua anakku ini yang menjadi raja mereka disuruh memakan tebu di hadapan kalian lalu terserah kepada kalian siapa yang paling kalian sukai" Ucap Raja Suwawa.


Polumoduyo dan Mooduto disuruh memakan tebu di hadapan rakyat Polumoduyo makan tebu itu dari pangkalnya sampai ke ujung, dan semua tebu dihabiskannya sedangkan makan tebu dengan cara yang berlawanan dengan kakaknya, ia memulai dari ujung menuju ke pangkalnya sebelum habis tebu itu ia pun berhenti makan sisa tebu yang paling manis itu diserahkannya kepada seorang rakyat yang berdiri di depannya raja kemudian menanyakan kepada rakyatnya " siapakah yang kalian suka menjadi raja?" Tanya Raja Suwawa itu, dengan serentak rakyat datang menyembah kepada Mooduto.


hal ini menjadi tanda bahwa rakyat lebih suka kepada mooduto maka Raja menyatakan di depan rakyatnya "mulai hari ini ini aku menyerahkan kerajaan ini kepada Mooduto karena kalian lebih suka kepadanya" ungkap Raja, pesta perayaan Raja baru pun diadakan 40 hari siang dan malam seluruh rakyat diberi makan oleh keluarga raja Polumoduyo, ketika mengetahui bahwa ia tidak dipilih rakyat timbul rasa malunya dalam hatinya ia berkata " kalau begitu aku tidak disukai oleh rakyat di negeri ini apakah yang tumbuh di negeri ini lebih baik aku pergi jauh" ucapnya dalam hati, pada malam pesta perayaan ke-7 Polumoduyo mau pergi meninggalkan istana dengan diam-diam Tidak seorangpun yang mengetahui kemana perginya.












Sumber


Keesokan harinya keluarga Raja sangat kaget dan sedih karena Polumoduyo pergi tanpa pesan walaupun demikian pesta kegembiraan rakyat tetap diteruskan rakyat Tidak diberitahu tentang kepergian Polumoduyo. Selama pemerintahan mooduto rakyat makin giat bekerja di perkebunan mereka tidak hanya menanam tebu tetapi juga padi jagung dan ubi kayu banyak penduduk dari kerajaan lain yang berpindah ke negeri itu karena tertarik dengan kemakmurannya makanan banyak tanah subur dan rakyatnya penuh pengabdian kepada rajanya mereka sayang dan percaya kepada mooduto pada suatu malam Raja memanggil Talenga Pogambango, raja muda itu mengatakan bahwa ia sangat rindu kepada kakaknya ia memerintahkan kepada ada Pogambango untuk menyelidiki dimana Polumoduyo berada.

 Ia ingin agar Polumoduyo pulang ke istana sehingga ia bisa memerintah kerajaan bersama-sama dengan kakaknya. Pogambango, yang mempunyai ilmu-ilmu ajaib itu memerintahkan hantu yang bernama PONGGO.


PONGGO dapat terbang kemana saja setelah beberapa lama ponggo mengadakan penyelidikan didapatinya Pogambango berada di 1 gubug bersama seorang kakek iya rajin membantu kakek itu bekerja di kebun tempat itu sangat jauh yaitu Bolaang Mongondow Pogambango Segera melaporkan hal itu kepada raja rajanya bersedih ia tidak mampu untuk memanggil pulang kakaknya ada pun si Polumoduyo setelah meninggalkan istana Bawangio pergi ke arah timur ia berjalan siang dan malam tanpa henti kalau perutnya lapar ia segera mengambil daun dan buah kayu di hutan ia telah menempuh jarak yang sangat jauh gunung gunung dan lembah telah dilaluinya pada akhirnya ia sampai di sebuah gubuk tua.











Sumber


Di gubuk tua tinggal seorang kakak yang pekerjaannya berkebun, Polumoduyo meminta kepada kakek itu untuk tinggal di gubuk itu, iya tidak mengatakan dari mana dan siapa dia dia hanya mengatakan bahwa dia sedang merantau apakah itu menerima Polumoduyo untuk tinggal bersamanya tiap hari mereka bekerja di kebun dekat hutan Polumoduyo sangat rajin bekerja kakek itu pun sangat sayang padanya mereka membuka lagi kebon baru di dalam hutan hasilnya sangat banyak tidak dapat dihabiskan oleh mereka berdua tidak jauh dari tempat mereka itu ada suatu kerajaan kecil itu sering datang ke negeri tersebut.


 Untuk menukarkan makanan dengan bahan lain pada suatu ketika terdengar oleh kaki bahwa di negeri tersebut akan diadakan sayembara maksud dan tujuan saya itu adalah untuk memilih calon suami putri raja di negeri tersebut.


Dalam sayembara itu sang putri akan didudukkan di atas suatu balai yang tinggi di bawah balai tersebut putra putra bangsawan dan pembesar kerajaan akan bermain raga siapa yang dapat menyebabkan raga itu hingga jauh ke pangkuan Putri dialah yang akan dijadikan suami sang Putri berita tersebut diceritakan oleh kakek kepada Polumoduyo. Dan Polumoduyo pun tertarik dengan sayembara tersebut ia mengatakan maksudnya kepada kakek " Hai kakek bolehkah saya menonton sayembara itu" ucap Polumoduyo, kakek menjawab " Boleh, tidak ada yang melarang orang menonton namun ku nasehatkan kepadamu agar jangan mendekat orang yang bermain raga itu mereka itu adalah anak pembesar kerajaan dan bangsawan di negeri ini" kata Kakek. 


Polumoduyo pergi ke tempat orang bermain raga tersebut ia memakai pakaian yang buruk seperti pengemis mukanya sangat menjijikkan seperti muka ular belang ia berdiri agak jauh dari orang yang bermain raga dan ia menonton dengan asyiknya tampak olehnya pemain-pemain itu berusaha untuk menyapak dengan sekuat tenaga, namun tidak ada yang bisa menyarangkan di pangkuan Putri, ada yang tidak sampai ada pula yang lewat begitu saja.


Tidak bertahan lama hati Polumoduyo ingin menyepak Raga itu ke pangkuan Putri, iya tidak lupa akan pesan kakeknya ia juga lupa bahwa ia hanya berpakaian yang buruk tidak tahu iya bahwa pakaiannya itu menimbulkan ejekan dari orang yang sedang bermain raga tersebut selangkah demi selangkah ia menuju ke tempat sembara tanpa disadarinya ia telah berada di gelanggang sayembara tersebut tiba-tiba meluncurlah raga itu ke arahnya dengan serta-merta keluarlah keahliannya bermain raga bola tersebut dipermainkan nya beberapa kali dari kaki kiri ke kanan dan sebaliknya lalu tiba-tiba ia melompat tinggi sambil menyepak raga itu, dan alhasil raga itu pun meluncur ke arah balai sang putri dan jatuh tepat di pangkuan Putri itu sejenak penonton tertegun lalu kemudian bersorak karena kagum.


Pemuda-pemuda bangsawan itu berebutan mengaku sebagai pemenang sedangkan Polumoduyo mundur perlahan-lahan ke belakang ke tempatnya semula iya hanya melihat saja tingkah laku anak-anak bangsawan itu masing-masing mengatakan "akulah yang menyepakan raga itu ke pangkuan sang Putri" ucap anak bangsawan, terjadilah kekacauan di tempat tersebut.


Tidak seorangpun yang mengalah perkelahian pun terjadi mereka saling memukul dan menendang dengan kacau tidak diketahui siapa lawan dan siapa kawan baku hantam itu makin seru Raja pun bertanya kepada putri siapa sebenarnya yang telah menendang raga ke pangkuan maka Putri pun berkata " Tidak seorangpun diantara mereka itu yang telah menyebabkan Raga ke pangkuanku ini mereka tidak berhasil menyepakannya laki-laki kecil yang berdiri di sebelah sana itulah yang telah berhasil menyepakan raga ke pangkuan ku.


Dialah yang berhak menjadi suamiku" kata Putri, mendengar pengakuan sang Putri terdiam lah semua bangsawan itu mereka memandang kepada Polumoduyo melihat wajah dan pakaian Polumoduyo yang buruk anak-anak bangsawan itu mengejek salah seorang berkata " yang begini kah Yang pantas mengawini Putri orang yang bermuka buruk seperti kulit ular pakaiannya pun compang-camping" dengan kalimat ejekan, kemudian Raja berkata " kalau benar dia yang telah menyepak raga hingga jatuh di pangkuanmu dialah yang akan dicalonkan sebagai suamimu.


Sebelum ia mengawini mudengan saya harus dapat memenuhi beberapa syarat syarat yang pertama ia harus mampu mengalahkan buaya yang besar di sungai kerajaan kalau syarat pertama dapat dilaksanakannya dengan baik maka syarat kedua ia harus mengambil daun pencuci muka putri di seberang sungai dan daun itu harus direbut dari raksasa garang penjaganya" ucap Raja ayahanda dari putri tersebut.


Sungai kerajaan itu sangat lebar dengan airnya yang mengalir deras di tengah sungai itu terdapat buaya besar sebagai penjaga sungai di seberangnya terdapat pohon Polohungo yang daunnya dipakai untuk mencuci muka atau memandikan gadis remaja pohon itu dijaga oleh seorang raksasa yang besar bermuka hitam dan berbulu badannya untuk sampai ke seberang sungai itu tidak disediakan perahu.

Dipanggillah Polumoduyo ke depan Raja, dan ia berpura-pura tidak tahu adat menghadap iya berdiri saja ketika berada di depan raja-raja berkata silakan duduk anak muda.


Siapa namamu dan dari mana asalmu Polumoduyo pun menjawab saya tidak mempunyai nama saya hanya perantau yang kebetulan lewat di tempat ini Raja berkata pula benarkah engkau yang menyebabkan raga itu ke pangkuan Putri? Polumoduyo menjawab benar wahai Raja saya melihat orang bermain raga lalu saya tertarik untuk bermain saya tidak sengaja menyepakkan raga itu kepangkuan Putri oleh sebab itu maafkanlah saya, maka Raja pun berkata pula


Kalau demikian engkaulah yang akan aku calonkan menjadi suami sang Putri tetapi sebelum kawin engkau harus mengambil daun pencuci muka putri di seberang sungai kerajaan di sungai itu ada seekor buaya besar sebagai penjaga nya engkau harus mampu mengalahkan nya pohon daun pencuci muka itu dijaga oleh seorang raksasa, Polumoduyo pun menjawab saya sebenarnya tidak berkeinginan menjadi suami sang Putri tetapi kalau diminta oleh raja saya bersedia mengambil daun pencuci muka di seberang sungai itu saya akan mencobanya mudah-mudahan saya akan mendapat kekuatan untuk melawan buaya dan raksasa itu.


‌Raja dengan segera memerintahkan pengawal untuk memukul gong rakyat pun berkumpul tua-muda besar kecil laki-laki perempuan datang ke depan istana raja-raja lalu mengumumkan rakyatku pada hari ini seorang pemuda perantau akan berusaha mengambil daun pencuci muka di seberang sungai untuk itulah aku mengumpulkan kamu semua agar kita dapat menyaksikan kehebatan pemuda ini menghadapi buaya penjaga sungai dan raksasa penjaga pohon POLOHUNGO.












Sumber


Artikel ini diambil dari Buku, Cerita Rakyat Kepalawanan Gorontalo. Oleh Dr. Nanti Tuloli - STIKIP GORONTALO - 1993. 


Next Part II


Baca Juga
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url