Perang Panipi




Cerita Rakyat - Pada masa penjajahan Belanda rakyat di daerah Gorontalo sangat menderita rakyat menjadi miskin, serta selalu ditindas oleh kaki tangan penjajah. Bekerja untuk kepentingan penjajah sehingga tidak mempunyai kesempatan untuk mencari nafkah bagi keluarga kalau ada yang mempunyai kebun sawah dan ternak penjajah tidak segan-segan mengambil sebagian besar hasilnya dengan alasan pajak tua muda besar kecil merasakan penderitaan masa itu. 





Sejarah Singkat Perang Panipi


Kesusahan seperti itu bukan hanya dialami oleh rakyat tetapi juga oleh raja dan keluarga raja orang yang dulunya kaya telah menjadi miskin, bahkan kehilangan harta sama sekali walaupun keadaan itu makin menekan hati raja dan rakyat, namun tidak ada yang berani menantang. Mereka takut disiksa dan dipukul oleh serdadu penjajah yang sangat menyakitkan, pula hati rakyat ialah orang-orang sesuku yang bermuka dua. Mereka pura-pura membela rakyat padahal merekalah yang suka melaporkan yang buruk buruk kepada penjajah, orang-orang itu suka menjilat kepada pemerintah penjajah juga menjadi kaki tangan penjajah untuk memungut pajak dengan secara paksa. 





Situasi yang buruk itu semakin lama makin bertambah, rakyat pun makin lama makin bertambah miskin badan menjadi kurus, berjalan terhuyung-huyung selalu terbayang penyiksaan yang sewaktu-waktu akan menimpa ada  yang mulai putus asa dan membiarkan kehidupannya terlunta-lunta sehingga akhirnya mati kelaparan, sebagian pula lari ke hutan-hutan dan ke puncak puncak gunung Tilongkabila dan Buliohuto.


Baca juga: Cerita Rakyat Kepahlawanan Gorontalo Perantauan Polumoduyo





Mereka itulah yang disebut Polahi atau pelarian ketika derita tidak tertahankan lagi muncullah seorang pemuda yang bernama Panipi, ia adalah anak raja Batudaa pada suatu hari ia melihat, rakyat yang disiksa oleh kaki tangan penjajah untuk membayar pajak, hasil jerih payah mereka di kebun dan sawah dirampas oleh kaki tangan penjajah itu, orang-orang yang mau mempertahankan hak milik, mereka pukul ditendang dan bahkan diikat lalu dibawa ke penjara. 





Pemaksaan Keluarga Untuk Membayar Pajak







Makam Radja Panipii (Foto : Banthayo.id)






Iba hati pemuda itu melihat perlakuan kaki tangan penjajah kepada rakyat. Kebenciannya memuncak ketika orang Belanda memaksa keluarganya membayar pajak namun teman-temannya mereka sepakat untuk menghasut rakyat menentang pemerintah penjajah pada waktu itu, dengan teman-temannya mengatakan kepada rakyat bahwa mereka telah cukup menderita orang-orang Belanda dan kaki tangannya hidup dalam keadaan mewah mendengar hasutan itu. 





Rakyat sepakat untuk tidak membayar pajak dan menentang penjajah diangkat menjadi pemimpin rakyat petugas petugas pajak diusir, oleh pemuda dari desa-desa pemerintah Belanda di Gorontalo mendengar hal itu, dari kaki tangannya petugas lain untuk memungut pajak rakyat terutama pemuda telah siap dengan senjata untuk mengusir mereka. 





Panipi dipanggil menghadap kepada pemerintah kota Panipi menolak dan berkata "Aku bukan budak orang Belanda" katanya. Kepala pemerintahan menjadi marah dan kaget kaget mendengar kata-kata yang menantang dari panipi itu. Ada rakyat yang berani menentang penjajah untuk perang.





PART II>


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url